BERANGKAT KE SEKOLAH DENGAN CUACA EKSTREM

Pagi itu langit tampak gelap sejak fajar menyingsing. Awan tebal menggantung rendah, seolah menekan bumi dengan beban hujan yang tak kunjung reda. Angin bertiup kencang, membawa rintik hujan yang berubah menjadi deras dalam hitungan menit. Suara gemuruh petir sesekali memecah kesunyian desa.

Jalan menuju sekolah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi lautan lumpur. Tanah merah yang basah bercampur air membentuk kubangan panjang dan licin. Setiap langkah kaki terasa berat, sepatu tertarik oleh lumpur lengket yang menempel tebal. Beberapa bagian jalan bahkan tergenang air hingga menutup batu dan lubang di bawahnya.

Anak-anak yang berangkat sekolah harus berjalan perlahan, menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset. Ada yang menggulung celana, ada pula yang memilih berjalan di tepi jalan demi mencari pijakan yang lebih keras. Tas sekolah mereka dilindungi plastik agar buku tidak basah oleh hujan.

Meski cuaca ekstrem menghadang dan jalan berlumpur menyulitkan perjalanan, semangat untuk belajar tetap menyala. Di tengah dinginnya pagi dan beratnya langkah, tekad mereka lebih kuat daripada badai yang datang.

Di sebuah sekolah terpencil SDN 3 Jatisari yang berdiri sederhana di tengah hamparan perbukitan, suasana bulan suci Ramadan terasa begitu hangat dan penuh makna. Bangunan sekolah yang berdinding itu tampak lebih hidup dari biasanya. Spanduk bertuliskan “Pondok Ramadan” terpasang di depan kelas.

Setiap pagi, sebelum kegiatan dimulai, para siswa berkumpul di ruang kelas yang disulap menjadi tempat belajar agama. Tikar digelar rapi di lantai, sementara papan tulis dipenuhi tulisan tentang keutamaan puasa, doa harian, dan ayat-ayat pendek Al-Qur’an. Meski fasilitas terbatas, semangat belajar mereka begitu besar.

Kegiatan Pondok Ramadan diisi dengan tadarus bersama, hafalan surat-surat pendek, praktik wudhu dan salat, serta cerita-cerita teladan para nabi yang disampaikan guru dengan penuh kesabaran. Suara lantunan ayat suci terdengar lembut menyatu dengan hembusan angin dari jendela yang terbuka.

Pondok Ramadan di sekolah terpencil itu bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan momen memperkuat iman, kebersamaan, dan rasa syukur. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, nilai-nilai kebaikan tumbuh subur dalam hati anak-anak yang penuh harapan.